Selasa, 23 Agustus 2011

Dir. Pendidikan

Memahami Integritas Sejati

Masithoh Sobron Jamila--Direktorat Pendidikan

Integritas sejati adalah melakukan hal yang benar padahal tahu bahwa tidak akan ada seorangpun yang tahu apakah kita melakukannya atau tidak (Oprah Winfrey)

integritas berhubungan dengan moralitas. Hampir semua dari kita mengartikan integritas sebagai kejujuran, ketulusan, kemurnian, kelurusan, dan bukan kepura-puraan. Integritas adalah ketulusan, sesuatu yang sungguh-sungguh berasal dari dalam hati. Itulah mengapa, integritas bukan cuma jujur pada orang lain, tetapi juga terutama adalah jujur pada diri sendiri.

Integritas haruslah sebuah spontanitas murni dan polos yang lahir dari diri kita (bukanlah kepura-puraan). Integritas tidak memerlukan penilaian, atau pertimbangan untuk-rugi untuk terwujud. Ia muncul begitu saja. Tak peduli ada orang lain yang tahu atau tidak.

Kita tidak memerlukan peraturan apa-apa untuk bersikap jujur dan tulus. Kita tidak memerlukan motif apa-apa untuk menjadi seorang yang berintegritas tinggi. Karena, sudah semestinya itu sudah tertanam dalam diri kita. Orang yang berintegritas akan mempunyai kemampuan untuk senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip moral dan menolak untuk mengubahnya meski situasi yang kita hadapi sangatlah sulit dan dilematis. Integritas berkaitan dengan menunaikan amanah, menjalankan kewajiban dan menjaga kepercayaan. Orang yang berintegritas akan senantiasa bertanggungjawab dengan apa yang dia perbuat.

Kawan mahasiswa STAN, integritas seperti apa yang kita miliki? Yakinkah bahwa sampai saat ini integritas kita adalah integritas sejati yang murni dari sanubari? Yakinkah bahwa integritas kita lahir dari hati? Bukan karena selalu ada yang mengawasi?

Salah satu bentuk integritas mahasiswa adalah kejujuran dalam ujian. Mahasiswa yang mencontek, berarti telah jelas melanggar integritas, atau malah bisa dibilang tidak mempunyai integritas. Sedangkan untuk kalangan mahasiswa yang tidak mencontek terdapat separasi disini, bedakan antara mahasiswa yang tidak mencontek karena takut DO dan yang tidak mencontek karena berprinsip bahwa tindakan tersebut adalah tidak sportif, curang dan membohongi diri sendiri. Apabila kita konsisten untuk tidak mencontek walaupun mata kuliah yang diujikan sangat susah, ketika kita tahu banyak dari teman kita melakukannya, ketika tidak ada ancaman DO, berarti kita telah memiliki integritas sejati dalam hal ini.

Akan banyak mahasiswa membolos kuliah kalau saja tidak ada regulasi yang membatasi. Bukankah dengan membolos sama saja kita mengkhianati amanat rakyat yang telah membiayai kuliah kita? Ketika ada aturan kehadiran sekian persen, masih ada segelintir mahasiswa yang menyesal karena tidak sempat mengambil “jatah” membolos. Miris memang, Integritas mahasiswa yang seperti ini menjadi dipertanyakan.

Mencontek dan membolos memang contoh kecil realita di kalangan mahasiswa, masih banyak lagi hal-hal yang dapat disoroti, misalnya di lingkungan organisasi. Namun dari hal sederhana tersebut, efek kedepannya tidak dapat dianggap remeh. Pelanggaran integritas akan menumbuhkembangkan bibit-bibit ketidakjujuran. Ketidakjujuran inilah yang nantinya akan bertransformasi menjadi korupsi. Korupsi hanya bisa terjadi karena ada ada hasrat pribadi yang menghendaki. Beruntunglah kita yang nantinya bekerja di lingkungan yang bersih, kondusif untuk memupuk integritas. Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya? Integritas benar-benar akan diuji, dan akan terlihat nantinya siapa yang menjaga integritas hanya karena adanya pengawasan semata dan integritas yang keluar sebagai cerminan jati diri.

Lebih baik kita berintrospeksi, masihkah kita akan berlaku jujur dalam menjalankan amanah sebuah organisasi misalnya ketika tidak ada teman yang mengamati atau orang lain yang mengawasi? Bukankah kita sekarang masih bisa vokal berteriak karena kita belum punya kesempatan untuk bertindak? Kita masih bisa bersikap idealis karena kita tidak sedang berada dalam lingkaran kepentingan itu?

Mempunyai integritas karena takut akan sanksi memang lebih baik dibanding yang sudah tidak punya malu lagi dengan berbuat sesuka hati mencederai amanat rakyat. Namun alangkah baiknya kalau integritas yang kita punya adalah yang murni dari hati nurani. Dengan begitu apapun kondisinya, dimanapun ada kesempatan, kita akan terus mengedepankan kejujuran dan menjunjung integritas.

Alasan kita takut untuk melakukan sesuatu yang buruk itu harus didasari dengan kesadaran bahwa hal tersebut tidak benar, bukan hanya karena kita takut melanggar suatu aturan, takut mendapatkan sanksi. Kita akan konsisten dengan sebuah sikap jika kita menyakininya dari hati bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah kebenaran. Sehingga apabila kita dihadapkan dengan conflict of interest, kita akan mempunyai pedoman yang akan kita pegang.

Tidak perlu memprotes kenapa harus kita mahasiswa yang memulai untuk memiliki integritas sejati. Sudah jelas jawabannya, karena kita adalah agent of change, kitalah generasi penerus bangsa yang akan mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik. Fakta ini yang harus mahasiswa sadari. Setiap mahasiswa harus tahu perannya sehingga tidak ada keluhan lagi yang menyatakan bahwa “ada tidaknya mahasiswa adalah sama saja”.

Sudah seharusnya, seluruh mahasiswa STAN bisa memahami makna integritas sejati dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai saat ini, di lingkungan kerja nanti dan hingga akhir hayat menghampiri. Semoga nantinya kita bisa berdiri tegap menjadi punggawa keuangan bangsa yang dengan integritas sejatinya mampu mewujudkan Indonesia yang bebas korupsi dan kolusi, mengantarkan negeri ini menuju kemerdekaan yang hakiki, memunculkan kembali senyuman ibu pertiwi. Semangat kawan-kawan, terus mengabdi untuk negeri…!!!

Minggu, 21 Agustus 2011

Litbang

Negeriku Namanya Indonesia

Luh Made Rahmita A.P

Negeriku namanya Indonesia

Konon katanya namanya tenar seantero dunia

Alamnya kaya raya, jangan lagi ditanya

Mulai dari timah di Belitong sampai emas di Jayapura

Belum lagi rempah-rempah segala rupa

Siapa tak terpikat? Termasuk mereka, si bangsa Eropa

Negeriku namanya Indonesia

Bangsa Eropa pun datang, diterima para raja-raja

Yang pertama datang, Bangsa Portugis namanya

Awal mulanya hanya berniaga katanya

Namun karena kayanya bangsaku, membuat mereka gelap mata

Negeriku dijajah, alamnya dieksploitasi, rakyatnya diperhamba

Negeriku namanya Indonesia

Bangsa Portugis hengkang, diusir bangsa Belanda

Negeriku kembali dijajah, politik devide et impera

Raja-raja menjadi gila kuasa

Kekuasaan di atas segalanya, terutama kemurnian ras bangsawannya

Praktek korupsi mulai marak, kolusi dan nepotisme jangan lagi ditanya

Raja negeriku lebih memilih bersatu dengan Belanda,

daripada berbagi dengan saudara sebangsa

Tak ayal bangsaku hancur, hingga tiga setengah abad lamanya

Negeriku namanya Indonesia

Raja-raja mulai sadar akan kejinya kaum Belanda

Akhir abad delapan belas, perjuangan berasaskan persatuan mulai ada

Sebut saja Pasukan Padri di tanah Sumatera, lalu Diponegoro di tanah Jawa

Dan juga perang Aceh, dipimpin Cut Nyak Dien dan Cut Meutia

Hanya bermodalkan bambu runcing, namun dengan semangat yang menggelora

Namun sayang, Kompeni lah yang lebih perkasa

Negeriku namanya Indonesia

Awal sembilan belas empat dua, Jepang masuk Asia Tenggara

Dengan mengaku sebagai saudara tua, mereka membantu mengusir Belanda

Rakyat pun senang, dan menyambut dengan tangan terbuka

Nippon pelindung Asia, Nippon cahaya Asia, dan Nippon pemimpin Asia

Begitulah ras kulit kuning itu menyebut dirinya

Rakyat tak sadar itu hanya bagian dari propaganda

Hingga kenyataan kemudian tersingkap dibalik kejamnya romusha

Negeriku namanya Indonesia

Generasi muda terpelajar mulai sadar dan berdiri di garda paling muka

Berseru lantang dengan tangan terkepal “MERDEKA!”

Tak peduli nyawa yang menjadi taruhannya

Dibunuh, diasingkan, dibantai, dan dianiaya

Semua risiko diterima dengan ikhlas tanpa banyak bicara

Demi cintanya kepada tanah air pusaka

Tanpa mengincar harta, apa lagi kuasa

Dan atas semua pengorbanan itu, tidak ada materi sebagai balas jasa

Namun mereka tetap ada disana, di garda paling muka

Tidak sedikitpun ada getar di setiap pekikan “MERDEKA!”

Tidak sedikitpun ada ragu di setiap perjuangan, meski cuma-cuma

Merekalah sosok pahlawan sejatinya

Negeriku namanya Indonesia

Akhirnya negeriku merdeka, tujuh belas Agustus di tahun empat lima

Kemerdekaan yang tidak mudah, beribu-ribu nyawa mati di medan laga

Negeriku perlahan berbenah, dipimpin oleh Soekarno-Hatta

Sang Garuda mulai mengepakkan sayapnya ke seluruh dunia

Seakan mewartakan bahwa Indonesia,

Negeri yang kaya itu,

sudah MERDEKA

Negeriku namanya Indonesia

Enam puluh enam tahun sudah Indonesia merdeka

Seharusnya rakyatnya sudah makmur dan sejahtera

Seharusnya tidak ada lagi kelaparan dan kaum dhuafa

Seharusnya pembangunan sudah dijalankan secara merata

Seharusnya hukum sudah berdiri setegak-tegaknya

Seharusnya pendidikan yang layak bisa dinikmati setiap generasi muda

Seharusnya..

Seharusnya..

Seharusnya..

Negeriku namanya Indonesia

Enam puluh enam tahun sudah Indonesia merdeka

Lihatlah kawan, kondisi tanah air kita

Rakyatnya masih belum sejahtera

Kemiskinan, kelaparan, kesengsaraan, masih ada dimana-mana

Hukum masih bisa dimainkan, bahkan direkayasa

Aparatur pemerintah hanya mengejar uang dan kuasa

Polisi, hakim, jaksa, dan pengacara

Bahkan para wakil rakyat di balik gedung kura-kura

Segala cara dihalalkan, praktek korupsi sudah biasa

Beberapa yang sial dijebloskan ke Penjara

Beberapa yang licin mampu kabur hingga ke Kolombia

Sekarang ini, setiap pengabdian hanya berlandaskan materi dan kuasa

Tidak ada materi dan kuasa, berarti tidak ada pengabdian untuk Negara

Baru enam puluh enam tahun, namun semangat perjuangan tanpa balas jasa telah hilang entah kemana

Negeriku namanya Indonesia

Negeriku kini harus berperang melawan bangsanya sendiri, berbeda dengan sebelumnya

Negeriku sudah demikian bobroknya, hingga mereka bilang tidak mungkin membenahi segala yang ada

Korupsi kembali menjangkiti negeriku, seperti dahulu, di zaman raja-raja

Mereka menyerukan pekikan pesimis melalui media-media

Bahwa bangsa ini akan terpuruk, rakyatnya tidak akan pernah sejahtera

Tapi mereka tidak tahu, dan harus di beritahu bahwa kami dan kamu ada

Negeriku masih punya generasi muda dengan semangat nasionalisme yang membara

Negeriku masih punya kaum terpelajar yang disebut mahasiswa

Negeriku masih punya mereka yang memiliki harapan dan cita-cita serta mau berusaha

Semasih mereka masih ada di Indonesia

Dan semasih mereka diizinkan untuk ada

Negeriku, yang namanya Indonesia ini,

Suatu saat akan MERDEKA seutuhnya.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Litbang

Negeri Kaya, Benar Kaya atau Mimpinya Kaya?

Riyan Al Fajri

“Sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia Negara yang diakui rakyatnya sebagai Negara kaya sumber daya dan subur. Semakin kita membuka mata semakin kita dapati sebuah fakta yang berbanding terbalik dari seharusnya terjadi diantara negeri-negeri kaya itu. Lihatlah, Bagaimana mungkin negari kaya sumber daya alam ini bisa memiliki rakyat kurang gizi? Bagaimana mungkin negeri subur yang kata orang cukup lempar tongkat saja bisa tumbuh jadi tumbuhan ini banyak rakyat kelaparan? Makanan, rempah-rempah, sayur-sayuran, buah-buahan bisa ditanam diseluruh bagian Negara. Akan tetapi rakyat banyak yang kurang gizi. Seperti kata pepatah, ayam mati dilumbung padi, unta mati kehausan di padang pasir. Apa yang salah? Dimana yang salah?”

Selalu saja muncul kalimat seperti itu dari mulut-mulut kita yang tidak bisa menerima keadaan yang sedang terjadi. Bukan ingin mengkambinghitamkan sesuatu, tetapi kita butuh membuka mata lebih lebar lagi untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Andai kata kita membuka mata, kita dapati kenyataan, negeri subur itu kini banyak dilanda bencana banjir. Andai kata kita membuka mata, kita saksikan, negeri kaya tanaman-tanaman itu kini sedang berada dimusim kemarau panjang. Andai kita membuka mata, kita dapati, negeri yang kaya sumber daya mineral itu kini sedang menghadapi indahnya goyangan gempa dan hujan-hujan abu ledakan gunung. Andai kita membuka mata lebih lebar lagi, kita dengan malu menyadari, negeri yang kata orang kaya itu kini dipenuhi oleh pembesar-pembesar yang membuat terjadinya mismanagement dan pengalokasian dana rakyat untuk kantong pribadi sehingga dana yang seharusnya bisa membangun perkebunan, membina pertanian, membuka lapangan kerja baru, dan meningkatkan perekonomian rakyat malah menjadi ajang pesta pora sebagian besar dari mereka yang terhormat.

Negeri kaya sumber daya alam, begitulah kita mengakui dan bangga atas title yang negeri ini miliki. Hanya saja, terkadang kita menutup mata terhadap kondisi yang sebenarnya terjadi. Ternyata untuk menjadi negeri kaya yang sesungguhnya itu tidak cukup hanya dengan kaya sumber daya alam. Dunia sudah berkembang. Permasalahan semakin kompleks. Kita butuh stabilitas ekonomi, social, politik, dan kita juga butuh hadirnya sumber daya manusia yang berkualitas.

Inilah permasalahan utama negeri kaya ini, sumber daya manusia yang berkualitas. Ada yang berkualitas tapi terusir keluarga negeri. Kita tidak usah malu mengakui bahwa baru-baru ini kita memiliki seorang menteri yang mendapat predikat menteri keuangan terbaik di dunia yang pada akhirnya harus menyingkir ke World Bank karena instability politik di negeri ini. Kita juga tidak perlu menutup mata bahwa banyak peneliti berkewarganegaraan Indonesia enggan untuk balik ke negeri kaya ini dikarenakan tidak kondusifnya situasi untuk mengembangkan diri. Lalu ada pula yang tidak terlalu baik kualitasnya tetapi punya keahlian dalam mengolah kata dan loby-loby internal mereka yang menjadi orang-orang besar di Negara kaya ini. Contoh kecilnya kita bisa lihat di senayan tempat orang-orang terhormat dari 33 propinsi mewakili rakyat negeri kaya ini. Jika kita mencoba mereka dengan tes kecil untuk pelajaran berstandar lulusan Perguruan Tinggi dan disandingkan dengan orang-orang yang tersingkir itu, bisa kita yakini orang-orang yang tersingkir itu jauh lebih baik dari mereka. Akan tetapi, di negeri kaya ini kualitas bukan nomor 1. Itulah kesalahan terbesarnya.

Hal yang tidak bisa kita pungkiri lagi adalah adanya gelombang manis korupsi yang melatarbelakangi kehidupan berbangsa negera di negeri kaya ini. Aneh memang, bagaimana mungkin Negara kaya sebesar ini bisa terjebak dalam satu penyakit menahun korupsi yang susah disembuhkan. Siapa yang membawanya? Siapa yang tega menginfeksi negeri kaya ini? Kita tidak perlu susah payah mencari kambing hitam atas sebab penyakit manahun ini. Yang perlu kita lakukan adalah pengobatannya. Seperti kata pak dokter di negeri kaya ini, “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Kalimat tadi sepertinya ada benarnya juga. Ada baiknya kita melakukan pencegahan dini untuk penyakit yang satu ini agar negeri kaya ini bisa menjadi kaya.

Factor lain yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana perdagangan kita di dunia internasional. Menjadi kaya sumber daya alam tapi menjual barang melalui Negara lain dengan harga ditetapkan oleh Negara lain itu sama saja bohong. Contoh yang bisa membuat kita menutup mata adalah bagaimana negeri ini yang merupakan penghasil Crude Palm Oil dalam jumlah yang paling besar di dunia harus rela menjual barang mentah itu melalui Negara tetangga. Harga ditetapkan oleh Negara tetangga. Siapa salah? Apa yang salah?

Kita perlu menyadari bahwa perekonomian yang merupakan factor utama dari hal menjadi kaya selalu disandingkan pada moral masyarakat. Bukan berarti perekonomian yang rata-rata yang dimiliki Negara kaya ini disebabkan rendahnya moral seluruh masyarakat. Tidak. Bahkan banyak masyarakat di Negara kaya ini bermoral indah. Akan tetapi, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Kita tidak perlu menutupi bahwa negeri ini memiliki indeks korupsi yang tidak lebih dari 4. Artinya, negeri kaya ini dipenuhi oleh pejabat yang korup. Ini perlu kita benahi.

Hal yang perlu kita perhatikan lagi adalah alur investasi. Terlalu naïf kita berbicara betapa kaya nya sumber daya alam negeri ini haruslah memperkaya rakyat nya tanpa perlu adanya investasi. Kita harus sadar bahwa sumber daya alam baru bisa di eksplorasi hanya dengan kesiapan untuk melakukan investasi dan system management kerja yang baik. Budaya kerja, kesiapan modal, menjadi factor utama pendukungnya. Andai kata budaya kerja kita masih “Rajin Malas Gaji Sama” niscaya Negari kaya ini tidak akan jauh banyak berubah. Lagi pula, urusan modal kita bisa serahkan pada pasar. Andai kata kita memiliki system management yang baik, prospek investasi yang baik, investor tidak akan lari. Tidak akan menutup mata. Anak bangsa bisa mengelola alam negeri kaya ini. Hanya saja, hanya segelintir anak bangsa saja yang berani. Yang lainnya terlalu senang dengan janji manis untuk bekerja dengan orang luar negeri karena gaji yang lebih besar. kita tidak perlu menutupi itu. Itulah kenyataannya. Alhasil, negeri kaya ini menggunakan jasa asing untuk berproduksi yang artinya pengurangan pendapatan jika dilakukan sendiri. Memang resiko kerugian lebih kecil tetapi keuntungan juga tidak lah besar. kita harus ingat sebuah prinsip ekonomi, high risk high profit. Untuk apa takut resiko untuk keuntungan yang jauh lebih besar? kita bisa menganalisis nya melalui ilmu ekonomi.

Negeri kaya sumber daya alam ini, setelah dicintai oleh gempa, disayangi oleh banjir, dipeluk erat oleh korupsi, dipermalukan oleh budaya kerja yang kurang membangun, diperdaya oleh ketakutan mengambil resiko, dirusak oleh orang tertentu yang menyingkarkan orang-orang berkualitas, masihkah pantas kita menuntut keharusan untuk bisa menjadi Negara Kaya? Masihkah kita bisa meyakini kita kaya? Atau kita hanya bermimpi mendapatkan sebuah utopis ditengah padang gurun yang mengelilingi kita? atau memang negeri utopis ini ternyata kehilangan utopisnya karena hempasan badai pasir yang menimbunnya? Apa yang sebenarnya yang terjadi? Apa? Mari kita jawab dengan tindakan membangun daripada bermimpi atas kekayaan sumber daya alam ini.

Negeri kaya

Hanya sebuah nama atau sebuah harapan atau sebuah boomerang?

Negeri kaya

Kitakah? Merekakah? Siapakah?

Bukan begini atau begitu

Yang terbuang memperkaya orang

Yang bertahan menjilat ludah berlian

Pelangi pun enggan melirik

Salam dari laut dan perut bumi yang ternyata mendatangi

Negeri kaya

Tersenyum atau menangiskah?

“Kaya Sumber daya alam saja tidak cukup membuat suatu negeri menjadi kaya. SDM, Moral, Korupsi, Investasi, Stability, merupakan factor penentu sejauh mana negeri kaya sumber daya alam itu bisa menjadi negeri kaya.”

Riyan Al Fajri. Bermenung diantara ruatan ide yang tidak tertuliskan. 19 Agustus 2011. 22.24 WIB

Jumat, 19 Agustus 2011

Litbang

Ikan Pantau Tertangguk, Ikan Terubuk Berenang Bebas ke Lautan

Riyan Al Fajri

Nazaruddin, begitu setiap orang mengenal beliau. Seorang pemuda yang mempunyai karir politik yang terhitung luar biasa. Betapa tidak? 2004 menjadi caleg PPP dan tidak terpilih, 2011 menjadi Bendahara Umum Partai Demokrat, partai berkuasa di Negara ini. Tidak bisa kita pungkiri sepak terjang pria berwajah campuran arab ini telah memberikan sensasi pedas untuk Negara. Mulai dari dugaan pemerkosaan yang dilakukannya pada seorang pegawai hotel hingga kasus korupsi yang mengarah pada sejumlah oknum di Kemenpora serta Partai Demokrat.

Nazaruddin sendiri sudah tampil beberapa kali di Televisi baik itu melalui komunikasi lisan maupun menampakkan wajahnya secara langsung via-skype. Hal yang mengejutkan bukanlah tuduhan miring yang dilakukan oleh Nazaruddin pada Anas Urbaningrum, oknum KPK, oknum Mahkamah Konstitusi, Andi Malaranggeng dan koleganya atau oknum-oknum anggota Dewan terhormat yang terseret oleh nya. Yang mengejutkan adalah pernyataan Nazaruddin beberapa hari setelah ia tertangkap dan dipulangkan di Indonesia.

“Saya minta sama Pak SBY anak istri saya jangan diganggu. Saya tidak akan ngomong apa-apa, saya lupa semuanya, saya mengaku salah, kalau perlu ga usah disidik, langsung divonis juga gak apa-apa.” Untuk mempertegas permintaannya ini Nazaruddin menulis surat diatas kertas putih yang dititipkan pada OC Kaligis sebagai Kuasa Hukumnya untuk Pak Presiden.

Berikut Surat Pribadi Nazaruddin:

Jakarta, 18 Agustus 2011

Kepada YTH,

Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Di Tempat

Bapak Presiden yang saya hormati,

Saya mohon kepada Bapak agar segera memberikan hukuman penjara kepada saya tanpa perlu lagi mengikuti proses persidangan untuk membela hak-hak saya. Bagi saya, saya rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan Bapak dapat berjanji Bapak akan memberikan ketenangan lahir bathin bagi keluarga saya. Khususnya bagi istri dan anak-anak saya.

Perlu saya jelaskan bahwa istri saya adalah benar-benar seorang ibu rumah tangga yang sama sekali tidak mengetahui apapun yang berhubungan dengan kepartaian. Saya juga berjanji, saya tidak akan menceritakan apapun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK demi kelangsungan bangsa ini.

Demikian surat ini, mohon bantuan dan perhatian Bapak Presiden

Hormat saya,

Muhammad Nazaruddin

Kenapa mengejutkan? Tentu ini suatu hal yang tidak bisa diterima begitu saja tanpa dipikirkan apa saja yang ada dibalik surat ini. Kita bisa berasumsi bahwa apa yang dilakukan Nazaruddi ini adalah sebagai upaya untuk memanipulasi dukungan terhadap dirinya dan memanipulasi kesalahan yang ia sembunyikan. Andai kata, tujuan Nazaruddin adalah untuk menyelematkan reputasi dan nama baiknya maka tentunya surat ini akan lebih baik tidak ditanggapi oleh Presiden. Lagipula ini adalah proses hukum. Sebagaimana aturan dalam sebuah Negara hukum, Yudikatif merdeka menjalankan fungsinya sebagai penegak hukum. Hukum merdeka memberikan keadilan bagi sesiapa yang pantas mendapatkannya.

Namun, apabila kita asumsikan bahwa apa yang menjadi kekhawatiran Nazaruddin adalah buah dari ketidakbersalahannya dan segudang rahasia yang ia miliki. Sungguh surat ini adalah sebuah pemberitahuan kepada dunia bahwa “ada” sesuatu pada Partai Demokrat dan KPK. Kita bisa yakini pula jika benar ini apa adanya, maka apa yang Nazar sebutkan tentang kasus korupsi oleh anggota Dewan terhormat itu benar. Kita bisa yakini juga apabila benar apa yang ditulis ini adalah curahatan isi hati Nazar, kasus yang menyeret sejumlah nama besar Partai Demokrat itu juga benar. Dengan demikian, akan semakin terpampang dimata rakyat, masih banyak ikan-ikan yang bebas berenang untuk bisa ditangguk oleh KPK.

Terlepas dari apakah surat Nazaruddin itu benar curahatan hati atau hanya sebuah kamufllase belaka, kita tidak perlu berspekulasi apa sebenarnya yang terjadi. Proses hukum akan menampilkan apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja, jika penegak hukum bebas dari segala macam kemungkinan untuk korupsi. Penyakit utama dari keadilan adalah Korupsi. Korupsi bisa membuat yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. KPK yang merupakan barisan terdepan dalam memproses kasus Nazaruddin ini menghadapi gelombang cobaan yang akbar. Kita harus berikan dukungan moril untuk KPK menyelesaikan kasus ini. Semoga saja KPK tidak lepas mata dalam penyelidikan beberapa kasus menyangkut oknum-oknum yang telah disebutkan Nazaruddin sehingga KPK tidak hanya bisa menangkap ikan pantau yang ada ditepi sungai tapi juga ikan terubuk yang ada ditengah laut.

“Ikan Pantau tertangguk, Ikan terubuk masih berenang bebas dilautan padahal Ikan terubuk itu lebih nikmat daripada ikan pantau. Tangguklah Ikan terubuk dan nikmatilah. Sungguh setelah ikan terubuk dimakan rasa nikmat kemerdekaan Negara ini akan semakin terasa.”