Kerja Bakti Rumah Kita
Nourma Mei Shinta
(Staff Direktorat Pendidikan SPEAK)
Beberapa hari yang lalu, kelurahan membuat kebijakan baru.
Mereka meminta seluruh warga masyarakatnya untuk menciptakan rumah bersih. Dan
kemarin bapak ditelepon pak lurah. Pak lurah menunjuk rumah kontrakan kami
untuk menjadi percontohan rumah bersih. Akan ada imbalannya, tapi yaaa dengan konsekuensi rumah harus selalu bersih.
Kemudian, bapak mengumpulkan kami semua. Menjelaskan perihal
kegiatannya, meminta kesanggupan kami dan mengajak kami untuk mulai kerja bakti,
membersihkan rumah.
Nasehat bapak, pertama kita harus bersyukur. Sangat bersyukur.
Rumah kita adalah yang pertama dijadikan percontohan. Apa artinya? Rumah kita
adalah yang paling mendekati bersih, dan akan menjadi yang pertama bersih.
Tidak semua rumah bisa jadi percontohan. Kita dipercaya, kita bisa membersihkan
rumah kita, dan kita dipercaya kita tidak hanya menginginkan uang jajan imbalan
percontohan.
Kata bapak, membersihkan rumah itu butuh ilmu.
Misalnya saja memisahkan sampah. Tidak semua barang lusuh adalah sampah, dan
sebaliknya, tidak semua barang mengkilat adalah yang berharga. Tidak juga semua
harus dibuang. Ada yang hanya perlu diperbaiki sedikit lalu ia kembali bisa
digunakan. Tapi ada pula, barang yang biaya perawatannya tinggi, tapi ternyata
hanya mengotori, dan perlu segera disingkirkan.
Membersihan pun tak sekali jadi. Harus
kontinue.
Apalagi masalah kesadaran pribadi. Meletakkan barang di tempat semula. Mengambil
hanya yang miliknya. Apalagi makanan di kulkas, hanya ambil yang memang haknya
ataupun jelas peruntukkannya. Jangan asal ambil punya orang. Siapa tau, titipan
tetangga sebelah...
Pesan bapak pula, harus siap. Menjadi pertama seringkali
tidak mudah.
Ketika dibersihkan, rumah kita akan terlihat lebih kotor, dari sebenarnya. Debu
tersembunyi yang kemarin tak terjangkau akan terlihat. Tikus-tikus akan muncul
keluar dari sarangnya. Mungkin pula juga akan ada laba-laba.
Tapi tak perlu takut. Ini malah baik. Tikus-tikus tidak merasa nyaman di sarangnya.
Berhamburan dan keluar dari rumah kita. Kita pun jadi lebih mudah mengusirnya
atau membunuhnya. Tak perlu resah pula, jika kemudian ada yang bilang, rumah
kita adalah rumah dengan banyak tikus. Mungkin pula rumah kita akan dapat julukan dari tetangga ‘rumah
tikus’? Haha. Ini pun, tak apa. Mereka hanya belum tau berapa banyak tikus
bersembunyi di rumah mereka. Atau berapa banyak lemari yang hampir habis digerogoti. Yah,
memang itulah gunanya percontohan. Kita
coba dulu, jika ini berhasil, kita akan memudahkan tetangga-tetangga kita.
Yang paling harus kita sikapi dengan baik adalah dengan ibu belakang
rumah dan bapak pemilik rumah kita. Ibu itu memang ia bukan warga kelurahan
kita dan tidak terkait dengan program di kelurahan kita, tapi kehandalannya
mencari dan menyebarkan berita itu lho. Bisa saja pada pak lurah ia bercerita berapa
ruangan kita yang masih kotor, bukan
berapa ruangan yang telah kita bersihkan dan berapa keras kita berusaha. Bisa
juga ia bercerita pada tetangga banyaknya tikus yang keluar dari rumah kita,
tanpa bercerita bahwa tikus itu kita bunuh dan makin banyak dan cepat tikus dibunuh, makin cepat bersih rumah kita.
Kata bapak, ibu itu tidak salah. Yang dilakukan ibu itu pun
juga tidak bisa dikategorikan hal buruk. Ya memang hobinya seperti itu. Dan
tetangga serta masyarakat juga menikmati berita-berita itu. Yang perlu kita
lakukan adalah mengimbangi dan menunjukkan. Apalagi ini ada dari program
kelurahan ini ada imbalannya. Kita duluan dapet, sedang rumah lain tidak.
Hmm... urusan uang siapa yang tidak sensitif J
Tentang bapak pemilik rumah yang kita kontrak, kita harus benar-benar jaga komunikasi dengan
beliau. Beliau akan dengan mudah menangkap berita yang beredar, yang mana ada yang
tepat, ada yang kurang tepat. Sehingga tidak salah ketika persepsi beliau
terbentuk ya dari informasi yang berhasil sampai pada beliau. Maka adalah tugas
kita untuk menyampaikan informasi sebenarnya. Jangan sampai, akibat persepsi yang salah,
kita di cap buruk oleh beliau, dan yang paling fatal, kita diusir dari rumah
kita.
Terakhir pesan bapak, mari lakukan dengan semangat, ceria,
dan optimis.
Semangat untuk terus bergerak efektif dan efisien, pantang mundur. Dengan hati
ceria dan mood yang bagus sehingga membuat kerja bakti kita lebih menyenangkan,
tanpa prasangka dan hasil yang kita peroleh lebih maksimal. Dengan optimisme
besar, karena setelah ini selesai, rumah kita akan jadi rumah yang lebih nyaman
untuk ditinggali, lebih aman untuk dihuni dan lebih berkah tentunya. Juga, jika
kita sukses, kita akan memudahkan rumah lain untuk ikut ‘kerja bakti’
membersihkan rumah. J
~~~
Ah, apapun. Semangat bersih-bersih ya bapak kemenkeu dan
paman KPK.Tetap berusaha dan tunjukkan pada semua, Indonesia bisa!
~~~
Note : Jika anda belum paham, ini adalah analogi program
reformasi birokrasi yang dilakukan pemerintah Indonesia. Kementerian keuangan
menjadi percontohan program ini. Beberapa kementerian juga sudah mulai
melaksanakan.Dari refbir ini, Kementerian keuangan kemudian melakukan bermacam
perbaikan dan pengembangan. Meskipun banyak orang mengidentikan reformasi birokrasi
hanya pada remunerasi, tapi sebenarnya ini adalah lompatan besar untuk menuju
Indonesia lebih baik.
*Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan melalui http://stikpedes.blogspot.com/2012/06/kerja-bakti-rumah-kita.html?m=1